Dari Desa Pela Kukar, Ikan Asin Menembus Pasar Ekspor
KLIKSAMARINDA, KUKAR – Matahari yang terik tak banyak membantu Helmawati (42) hari itu. Di tengah kemarau panjang yang membuat ikan sungai semakin sulit didapat, perempuan warga Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara ini tetap menjalankan usaha ikan asin yang telah digelutinya selama lebih dari satu dekade.
Usaha itu bermula dengan modal sekitar Rp20 juta untuk membeli ikan. Ia juga membutuhkan garam dalam jumlah besar. Sekali membeli, garam yang disiapkan bisa mencapai dua ton dengan harga sekitar Rp5 juta per ton.
“Dulu modal awalnya sekitar Rp20 juta. Itu untuk beli ikannya saja. Nah sekarang omzet berapa, yang pasti banyak. Saya tidak hafal, karena suami saya yang menghitungnya,” ungkap Helmawati.
Lebih dari 10 tahun berlalu sejak Helmawati memulai usaha tersebut. Ia tetap bertahan meski bahan baku bergantung pada hasil tangkapan masyarakat dan perubahan musim.
Kemarau bukan satu-satunya tantangan. Ketika hujan datang, proses pengeringan ikan menjadi lebih sulit. Namun, Helmawati memiliki cara sederhana untuk mengatasinya.
“Ditutupin pakai terpal aja ikannya,” katanya.
Cara sederhana itu cukup untuk membuat proses produksi tetap berjalan. Ikan tetap dapat dikeringkan dan pengiriman kepada pembeli tetap dilakukan.
Ikan-ikan sungai yang biasanya datang dalam jumlah banyak kini jauh berkurang. Jika pada musim ikan melimpah produksi bisa mencapai ratusan kilogram hingga hitungan ton, saat kemarau Helmawati hanya mampu mengolah sekitar 20 kilogram ikan dalam sehari.
“Kalau musim banyak, banyak. Kalau musim kemarau paling 10 kilo saja, 20 kilo,” kata Helmawati.
Bahan baku ikan asin sendiri bukan berasal dari tangkapannya maupun suaminya. Helmawati membelinya dari masyarakat sekitar yang menangkap ikan dari sungai. Ada berbagai jenis ikan yang jadi bahan bakunya. Pun, ukurannya beragam. Toman, biawan, gabus, sepat siam, repang, kendia, hingga tutu menjadi bagian dari ikan yang diolahnya.
“Ikannya ya beli dari masyarakat sini. Kan mereka ada yang jadi nelayan. Jadi ya ikut memberdayakan mereka jugalah,” ungkapnya.
Bertahun-tahun mengolah ikan membuat Helmawati terbiasa dengan perubahan musim. Ia tahu kapan ikan melimpah dan kapan harus bersiap menghadapi produksi yang lebih sedikit.
Kemarau kali ini terasa berbeda.
Dari pasokan yang sebelumnya dapat mencapai jumlah besar, pengiriman ikan asin kering kini hanya sekitar satu pikul dalam sepekan. Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan ketika ikan sungai mudah diperoleh.
Namun, penurunan produksi tidak serta-merta memutus hubungan Helmawati dengan pembelinya di Jakarta. Pembeli tersebut, menurut Helmawati, sudah memahami kondisi pasokan ikan di Desa Pela ketika kemarau datang.
“Sudah tahu. Karena di sini kemarau. Tahu ikan kosong kalau musim kemarau,” ujarnya.
Dari Ibu Kota, ikan asin hasil produksi Helmawati kemudian disebut diteruskan ke pasar luar negeri. Ia sendiri tidak mengetahui secara pasti negara mana yang menjadi tujuan akhir produknya.
“Enggak tahu pastinya. Tapi infonya memang permintaan untuk dikirim ke luar negeri,” katanya.
Meski tidak mengetahui ke mana ikan asin itu berakhir, perjalanan produknya menunjukkan bahwa usaha rumahan di Desa Pela telah terhubung dengan rantai perdagangan yang lebih luas.
Usaha tersebut juga tidak dikerjakan seorang diri. Pun, bagi dia, musim bukan hanya menentukan jumlah ikan yang diolah. Sebab musim turut menentukan seberapa banyak orang yang dapat bekerja bersamanya. Ketika ikan sedang melimpah, Helmawati mempekerjakan sejumlah warga untuk membantu proses pengolahan. Jumlah pekerja menyesuaikan ketersediaan ikan.
“Kalau musim ikan banyak, banyak juga anak buahnya. Kalau sedikit saja kayak sekarang, suami saja yang kerjakan,” tuturnya.
Di tengah perubahan musim dan pasokan ikan yang tidak menentu, Helmawati terus menjalankan aktivitas yang telah menjadi bagian dari kehidupannya. Dari ikan sungai yang dibeli dari warga sekitar, ia mengolahnya menjadi ikan asin yang kemudian dikirim ke Jakarta dan disebut diteruskan hingga ke pasar luar negeri.
Ia mungkin tidak tahu negara mana yang menerima ikan asinnya. Tetapi selama ikan masih bisa didapat dan usaha masih dapat berjalan, Helmawati tetap mengolahnya. Sebab usaha ikan asin sudah menghidupinya dan keluarga selama belasan tahun.
“Iya, syukur alhamdulillah. Sudah jualan dari anak saya masih kecil, sekarang sudah menikah,” pungkasnya. (*)



